Bagian 5 : Ikanaide

Font Size :
Dark Mode
Reset Mode
"Haruto" panggil Thania
"Ya" Haruto
"Aku gak mau kamu pergi" Thania
"Sebenarnya aku juga gak mau pergi tapi ini mendesak" Haruto
"Ikanaide" Thania
"Gomenasai" Haruto menundukan kepalanya me lihat kearah tas kopernya
"Ikanaide" Thania
"Aku janji akan pulang ke Indonesia lagi" Haruto mengangkat kepalanya dan mencoba tersenyum
Thania pun mencoba berbesar hati, dimana Thania berdiri di samping Haruto.
"hanya tiga celana, tiga baju, serta dalaman ?" Thania
"Ngapain bawa banyak banyak, kan nanti aku kembali lagi" Haruto
"Iya" Thania mengecup bibir Haruto
Dari tumpukan bajunya Haruto mengambil sebuah kaleng kue, dan ia duduk di lantai.
"Ingat jangan boros yah" Haruto
"Boros ?" Thania
Haruto membuka bekas kaleng kue yang membuat thania penasaran. Saat ia buka keleng tersbeut penuh dengan uang.
"Ini uang simpanan yang selama ini aku simpan untuk mu" Haruto
"Berapa jumblahnya ?" Tanya Thania
"Aku menukarnya dalam bentuk dolar amerika" Haruto
"Ternyata kamu punya bank pribadi yah" Thania tersenyum
"Jumblahnya sekitar dua puluh ribu dolar dengan pecahan seratus dolar, dan seribu dolar" Haruto
"Iya aku tidak akan boros" Thania
"Janji yah" Haruto
"Iya aku janji" Thania
Dari jendela terlihat cahaya matahari, jam juga menunjukan pukul 5:30 pagi. Haruto pun menuju kamarmandi, untuk mencuci muka. Di depan cermin, haruto memandangi wajahnya sendiri. Dan mengepal tanganya dengan keras. Thania pun mengetuk kamar mandi.
"sebentar lagi" Haruto
"Iya" Thania
Thania pun bersendr di pintu kamarmandi.
"Haruto" Thania
"Ya" Haruto
"tidak apa" Thania
Setelah selesai Haruto pun membuka pintu, dan ia melihat Thania yang duduk dengan memeluk kedua kakinya.
"Jangan ke seringan duduk seperti itu" Haruto
"Iya, ngomong ngomong jam berapa penerbanganya ?" Thania
"Jam Sembilan ini" Haruto
"Ya udah, aku mandi dulu, setelah itu kita berangkat ke bandara" Thania
"Ok" Haruto tersenyum
Haruto mengenakan pakaian, lalu ia pun menyalakan computer yang biasa ia gunakan, disana Haruto membuang kunci akses komputernya, agar Thania dapat menggunakan komputernya. Lalu kunci laci meja kerjanya dan lemari miliknya ia letakan di dalam gelas tempat ia meletakan penggaris, pensil, dan boldpoin.
Pintu kamar mandi pun di buka, Melihat Thania yang menggunakan handuk di dada, Haruto langsung memeluk Thania, kemudian membuat kiss mark pada bahu Thania. Thania hanya diam dan merasakan Kiss Mark dari Haruto pada tubuhnya. Thania mengusap kepala Haruto. Setelah selesai membuat Kiss Mark, mereka berciuman. Haruto pun tersenyum kepada Thania, mencium kening dan pipinya.
Thania mulai menggunakan bajunya. Setelah selesai, Mereka pun keluar dari kamar apartemen. Mamat yang ada di lobi pun menyapa mereka berdua.
"Loh mau kemane lu berdua" Mamat
"gw mau balik mat" Haruto
"balik ke ?" Thania
"kampung halaman, karena ada urusan keluarga" Haruto
"Thania lu ikut ?" Thania
"Enggak, gw mengatar sampe bandara doang mat" Haruto
"Hati hati di jalan, terus jalang lama lama ye, ninggalin bokin lu, entar di sabet sama cowo lain, kan berabe" Mamat
"Tenang aja mat, gw mah setia" Thania
"Ya udah kami pergi dulu" Haruto
"gak pamitan sama yang lain ?" mamat
"Lu aja entar sampein sama yang lain mat" Haruto
"Ok dah" Mamat
Di dalam perjalanan menuju bandara, Thania hanya diam saja, ia tidak berbicara sedikitpun, begitu juga Haruto, Thania terus melihat ke luar jendela taxi bandara yang mereka tumpangi. Kurang lebih satu jam setengah, mereka pun tiba di terminal ke berangkatan bandara soekarno hata.
"Sepuluh menit lagi" haruto melihat jam tanganya
Mereka pun bergegas, dan di pintu masuk, Thania tidak dapat lagi menemani haruto.
"Aku pergi dulu" Haruto
Tiba tiba Thania meneteskan air matanya
"Jangan lama lama" Thania
"Iya aku janji" Haruto
"jaga diri disana, jangan aneh aneh yah" Thania
"Tenang saja, aku kan setia" Haruto tersenyum
Thania pun memeluk Haruto, ia tidak perduli orang orang yang ada di sekitarnya, pemberitahuan dari pengeras suara pun terdengar, Haruto mengecup bibir thania.
"Aku pergi dulu yah" haruto
"Aku cinta kamu" thania
Mendengar kata kata itu, Haruto pun tersenyum dan ia tidak mau menoleh ke belakang lagi. Haruto melewati pemeriksaan, lalu perlahan Thania tidak dapat melihat Haruto lagi. Thania memutuskan untuk segera pulang. Dengan persaan yang tidak menentu. Thania hanya bisa meneteskan airmatanya.
"Ternyata ini rasanya di tinggalkan oleh seseorang yang di cintai" Thania
"Begini rasanya meninggalkan seseorang yang di cintai" Haruto dengan mata berkaca kaca
Tanpa adanya Haruto, Thania merasa ke sepian, biasanya ada yang membuat dia marah, berantem, terus sayang sayangan. Ngambek, ada yang masakin. Tidak ada Haruto di dekatnya semua terlihat berbeda. Setibanya di Apartemen, thania mulai mengetik cerita Light Novelnya.
"Haruto lapar!" teriak Thania
Ia pun sadar, bahwa Haruto gak ada, Thania bangkit dari tempat duduknya, ia melihat ke sekitar, ruangan ini rasanya menjadi sangat luas. Begitu sunyi. Sementara itu, Pesawat yang di tumpangi Haruto pun tiba di bandara internasional Narita.
"Nii –san!"
"Suara ini" Haruto merasa sangat mengenal suara itu
"Nii-san!"
Haruto pun menoleh, dan ternyata adik laki lakinya, Watanabe Urumi. Haruto pun melambaikan tanganya.
"Nii-san selamat datang" Urumi
"Terimakasih, kamu sendiri aja ?" Tanya Haruto
"Ini Nii-san, okasan, otosan sangat khawatir dengan Nii-san karena terlalu lama di Indonesia" Urumi
"Bagaimana kuliah mu ?" Tanya Haruto
"Aku baru masuk Kuliah di Hokudai" Urumi tersenyum lebar
"Eh, maksud mu Universitas Hokaido ?" Haruto
"Iya dong" Urumi
"Astaga, ternyata bisa juga masuk Universitas Hokaido" Ledek Haruto
"Bakaharu Nii-san" Urumi ngambek
Lalu selang beberapa detik mereka berdua tertawa lepas.
"Kita naik mobil" Urumi
"Kamu sudah bisa menyetir mobil ?" Haruto
"Bisa lah, ayah yang mengajari ku" Urumi
"Orang tua itu sudah tidak sibuk lagi?" Haruto
"Sudahlah Nii-san, Otosan sudah tidak seperti dulu lagi" Urumi
Urumi membuka bagasi mobilnya, dan haruto memasukan tas koper miliknya.
"Urumi, sebaiknya aku saja yang menyetir" Haruto
"Hai!" urumi kesenangan
Haruto pun mengemudi dan Urumi duduk di sampingnya, Urumi mengambil phonecell miliknya. Dan ia sambungkan speakernya ke mobil.
"Okasan!" Urumi
"Urumi.... Bagaimana apa kaka mu sudah datang?"
"Iya, ini Nii-san lagi mengemudi" Urumi
"Okasan..." Haruto
"Aduh gimana ke adaan kamu, apa kamu kurusan? , apa disana kamu suka sakit ?"
"Okasan, aku sudah di jepang, aku tidak kurusan" Haruto
"Iya Okasan, Nii-san hanya sedikit kurus, dan dia terlihat sehat sehat aja" Urumi
"Syukurlah"
"Okasan, nanti lagi, ketahuan polisi bisa di tilang nanti" Haruto
"Jangan ngebut, hati hati di jalan, terus kasih tau adik perempuan mu itu, jangan aneh aneh"
"Okasan~" Urumi
Ibunya pun tertawa kecil, dan menghakhiri panggilan sambungan telp. Di kediaman keluara Watanabe. Ternyata menyiapkan acara penyambutan untuk anak laki lakinya.
"Nii-san apa di Indonesia kamu punya pacar ?" Tanya Urumi
"Gak ada" Haruto
Karena hubungan itu masih pura pura karena sebuah pekerjaan jadi tidak mungkin jika harus mengatakan bahwa itu sebuah hubungan yang nyata.
"berarti masih perjaka dong" Ledek Urumi
"Di Indonesia biasa aja kok" Haruto
"Oh iya, Nii-san" Urumi sambil tersenyum
"Kok nadanya seperti ada sesuatu" Haruto curiga
"One-chan Onodera Aoi, nunggin Nii-san Loh" Urumi
"Aoi Ne-chan" Haruto dengan nada datar
"Gak kangen ?" Tanya Urumi
"Dia pasti ingin membuly ku lagi" Haruto dengan nada suram
"Tau gak semenjak Nii-san tinggalin Jepang, ke Indonesia, Aoi Nee-Chan berubah banyak loh" Urumi
"Ya Seharusnya dia menghubungi ku kan" Haruto dengan nada datar
"Lihat saja nanti, pasti Nii-san jatuh cinta dengan Aoi One-Chan" Urumi menyeringai
Haruto pun memberikan lampu send ke kanan, dimana ia hendak mengisi bahan bakar mobil yang sudah mau habis.
Malampun tiba, Thania duduk di kursi meja makan, sambil memandangi handphone miliknya.
"Kenapa kamu tidak menghubungi ku" gumam Thania dalam hatinya
Waktu demi waktu telah terlewati, hingga Thania tertidur, saat ia terbangun, ia melihat jam ternyata sudah jam dua belas malam. Thania pun menangis, sambil memegang pundak kirinya. Biasanya ada Haruto yang menyelimutinya. Atau menggendongnya hingga ke tempat tidur. Thania pun berdiri menuju kamarnya, ia pun mencoba untuk tidur. Air mata Thania tidak mau berhenti walau ia telah memejamkan matanya.
Pagi harinya, Thania melihat lampu led handphonenya berwarna merah menandakan ada pesan masuk, Thania pun langsung meraih handphone miliknya, saat di buka bukanya pesan dari Haruto melainkan pesan dari bu Yuni. Thania pun mencuci mukanya, lalu memesan makanan lewat go jec.
"Aku tidak bisa terus terusan menunggu pesan si bodoh itu, karena masalah yang ia tinggalkan" Thania
Thania terus tenggelam dalam Light Novel yang sedang ia kerjakan. Hujan pun turun, jari jari thania yang asik mengetik pada keyboard komputernya terhenti. Thania berdiri di depan jendelanya sambil melihat hujan yang turun membasahi kota Jakarta ini.
"Mamat!" panggil M.M
"Apaan Mpok Marko" balas Mamat
"Itu Neng Thania gak keluar keluar apartemen ye" M.M
"Iye Mpok. Gw cuman lihat yang ijo ijo datang membawa bungkusan pesanan dari N'ci Thania" Mamat
"Alah kalian berdua ini, gossip terus" Ujar pak RT. Anas
"Eh ada erte" M.M
"Kita kita khawatir aje te" Mamat
"Biasa lah, wanita kalo lagi di tinggal oleh laki laki yang di cintai ya gitu" Anas
"Alah te, te" M.M
Di halaman jaringan Sosial Haruto. Thania tidak melihat adanya aktivitas dari haruto.
"Itu orang kemana sih, bikin kesal aja" Thania berbicara sendiri
Handphone Thania pun bordering, disana terlihat tulisan sebuah nama yang sangat iya kenali.
"Hallo" Bu Yuni
"Iya bu" Thania
"Ada apa dengan tulisan mu ?" Bu Yuni
"eh.. ada apa bu dengan tulisan saya?" Thania
"Sepertinya lagi galau ya?" Bu Yuni
"Enggak kok bu" Thania
"Jangan panggil Ibu, panggil aja Yuni gak apa kok" Yuni
"Kalo begitu panggil saja aku Nia" Thania
"Ingat kalo ada masalah cerita aja, aku siap menjadi pendengar yang baik" Yuni
"Terimakasih Yun" Thania
"Aku mentantikan cerita dari kamu yah" Yuni
"Iya terimakasih Yun" Thania
Yuni pun tersenyum, sambil melihat scrip tulisan Light Novel yang baru saja di kirimkan kepadanya.
"Kira kira cowo itu membaca gak yah, setiap tulisan yang dia buat ini ?" Yuni sambil membaca
Dari tulisan setiap Capter kisah yang di tuliskan oleh Thania, sepertinya kisah nyata, soalnya setiap kata dalam penulisanya, Thania mencurahkan segala perasaanya. Dia juga menggambarkan tentang laki laki dalam cerita sebagai laki laki yang kejam karena ketegasanya, dia merubah semuanya tapi benang merahnya tentang cerita mereka berdua.
"Haruto"
"Ibu, aku pulang" Haruto
"Nii-san selamat datang!" Urumi dengan nada ceria
Saat masuk ke dalam rumah, Haruto menghentikan langkahnya, dimana Ayahnya menghampiri Haruto.
"Haruto"
"Otosan" Haruto
"Apa kamu sendirian dari Indonesia ?" Tanya ayahnya Haruto
"Iya otosan" Haruto
Ayah haruto pun menghela nafas panjang.
"Setidaknya kamu baik baik saja, sekarang cepat masuk" pinta ayah Haruto
"Iya" Haruto
Urumi pun mendekati Haruto yang sedang melepas sepatunya
"Kan ayah sudah berubah" bisik Urumi
Haruto pun menuju kamarnya, saat pintu itu di buka, dan lampu pun di nyalakan, ternyata tidak ada yan berubah, semenjak terakhir ia tinggalkan, tapi ruangan ini tetap bersih dari debu.
"Nii-san bayar" Urumi mengejutkan Haruto
"Bayar ? untuk ?" Haruto
"Eh.. selama Nii-san gak ada di rumah, setiap hari aku yang selalu membersihkan ruangan Nii-san" Urumi
"Baiklah, aku bayar dengan ucapan terimakasih" haruto masuk ke dalam kamarnya
"Eh gak mau !" Urumi duduk di tempat tidur Haruto
"Terus minta apa?" Haruto
"Temani aku berbelanja besok, gimana ?" Urumi
"Ok deh" Haruto tersenyum
Urumi yang sangat menyayangi kaka laki lakinya ini, memperhatikan kakanya yang sedang membuka tasnya.
"Nii-san" Urumi
"??" Haruto
"Ceritain tentang Indonesia" Urumi
"Tentang Indonesia yah" Haruto
"Un" Urumi
"Hmm, nanti abis aku mandi" Haruto
"Ehhh, ya udah aku mau bantu Okasan siapin makan Malam" Urumi
Haruto pun turun ke bawah, Ayahnya sedang menonton tv, sedangkan Ibu dan Urumi sedang menyiapkan makan malam. Haruto pun membuka lemari es, dan mengambil Bir kaleng dingin.
"Okasan, siapa yang punya ide menjemput ku ke bandara dengan mobil ?" Tanya Haruto
"Aku!" Urumi sambil mengangkat tanganya
"Baka" Haruto
"Kasan, Nii-san ngatain aku bodoh" Urumi
"Haruto jangan berkata kasar dengan adik mu" tegur ibunya haruto
"Dengan menggunakan mobil, jarak bandara Narita ke rumah sangatlah jauh bu" Haruto
Urumi pun berlari kecil dan memeluk ayahnya
"Otosan dengar, Nii-san menyalahkan urumi" Urumi dengan nada manja
"Dasar tukang ngadu" Haruto
"LIhat yah lihat" Urumi
Ayahnya pun meloneh ke urumi, kemudian menepuk kepala Urumi dengan pelan
"Itai yo, Otosan" Urumi
"Jangan kerjain kaka mu terus" sahut ayahnya
"Syukurin" Haruto
Mereka pun tertawa.
"haruto sepertinya air panas untuk kamu mandi sudah siap" ujar ibu haruto
"Iya bu" Haruto
"Bakaharu bwekkk" Urumi meledek kaka laki lakinya
Haruto pun membalas adik perempuanya Urumi dengan mengeluarkan lidahnya. Urumi pun tertawa kecil. Pintu rumah pun di buka.
"Aku pulang!" salam dari Watanabe Yumi
Urumi pun langsung bangkit menyambut kaka perempuanya
"Nee-Chan! Selamat datang" Urumi
"Eh, sudah sampai yah, gimana haruto ?" Tanya Yumi
"Lagi berendam air panas" Urumi
Yumi pun berjalan ke ruang tengah
"Eh masakanya daging ?" Yumi
"Iya ini acara menyambut kaka mu yang baru datang dari Indonesia"
"Ibu, aku baru pulang dari netcafe, gak di sambut dengna makanan seperti ini tiap hari ?" Tanya Yumi
"Nee-chan, jarak Netcafe milik mu ke rumah kita hanya tiga puluh menit" Urumi
"Kejam" Yumi
"Sana ganti baju mu" sahut ibunya
"Yumi" Ayah menatap dengan tajam
Yumi dengan raut wajah serius menghampiri ayahnya, dan ia pun duduk di samping ayahnya, membuat Urumi heran.
"Bagaimana ?"
"Sesuai pesanan anda"
"Barang kwalitas bagus ?"
"tentu saja tuan"
Urumi memperhatikan kaka perempuanya dan ayahnya yang sedang bercakap cakap seperti di film Yakuza.
"Oh ternyata benar barang bagus" Ayah
"Baiklah sebelum semua ini di cium oleh polisi lebih baik saya pergi dulu" Yumi
Saat di buka bungkusan tersebut ternyata Acar lobak, Yumi pun tertawa melihat Urumi yang memperhatikan dengan serius.
Share Tweet Share

Comment Now

0 comments

Please wait....
Disqus comment box is being loaded