Mereka berdua pun tidur,
Haruto memeluk Thania dari belakang, dan Thania merasakan kehangatan
yang bukan sekedar ke hangatan yang di dapat karena sebuah pelukan, tapi
rasa hangat itu hingga ke hati.
"Aku sudah mendapatkan ide cerita untuk capter 3"
Thania dengan suara kecil
dan ia terlihat sangat senang sekali.
Siang itu Haruto pun bangun dan ia segera kekamar mandi, dengan tergesa gesa Haruto pun mengenakan bajunya. Thania bangun dari tidurnya
"Mau kemana ?"
tanya Thania
"Hari ini aku pulang agak malam, kalo mau makan pesan lewat Go Jec aja"
"Ikut"
"Aku ada urusan"
"Sama siapa ?, terus dimana ?"
"Sama kenalan ku, dah aku sudah terlambat"
Thania melihat tingkah Haruto yang berbeda. Ia pun mencuci mukanya, kemudian kembali ke meja kerjanya, menuliskan capter 3.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Thania kesal sambil mengacak acak rambutnya
"Pergi kemana sih dia!"
Thania pun membuka jaringan sosialnya dan memperhatikan jaringan sosial Haruto, disana terdapat komentar seorang Wanita, Thania mengarahkan panah mousenya ke nama wanita tersebut, dari fhotonya, wanita tersebut sangat cantik, seperti seorang model. Entah kenapa semakin sering membaca mereka yang saling balas balasan status, buat Thania semakin kesal.
"Aku sudah mendapatkan ide cerita untuk capter 3"
Thania dengan suara kecil
dan ia terlihat sangat senang sekali.
Siang itu Haruto pun bangun dan ia segera kekamar mandi, dengan tergesa gesa Haruto pun mengenakan bajunya. Thania bangun dari tidurnya
"Mau kemana ?"
tanya Thania
"Hari ini aku pulang agak malam, kalo mau makan pesan lewat Go Jec aja"
"Ikut"
"Aku ada urusan"
"Sama siapa ?, terus dimana ?"
"Sama kenalan ku, dah aku sudah terlambat"
Thania melihat tingkah Haruto yang berbeda. Ia pun mencuci mukanya, kemudian kembali ke meja kerjanya, menuliskan capter 3.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Thania kesal sambil mengacak acak rambutnya
"Pergi kemana sih dia!"
Thania pun membuka jaringan sosialnya dan memperhatikan jaringan sosial Haruto, disana terdapat komentar seorang Wanita, Thania mengarahkan panah mousenya ke nama wanita tersebut, dari fhotonya, wanita tersebut sangat cantik, seperti seorang model. Entah kenapa semakin sering membaca mereka yang saling balas balasan status, buat Thania semakin kesal.
"Apa dia bertemu dengan Wanita gatel ini ?" Thania dengan nada kesal
Thania mematikan
komputer yang dipakainya. Moodnya hari ini sedang sangat jelek. Dia
bahkan memundurkan kursi belajarnya dengan kasar.
"Siapa wanita gatel itu?" Thania semakin kesal saat mengingat apa yang dia lihat tadi.
Thania duduk di ruang tamu apartemen mereka. Dengan menyilangkan kakinya dan melipat tangannya di dadanya, Thania terus menunggu Haruto pulang.
Thania melirik jam di ruangan tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
Perut Thania sudah berbunyi sedari tadi. Dengan wajah masih kesal, Thania memakai jaketnya dan keluar dari apartemen mereka. Thania berjalan ditengah keramaian dan mencari tempat makan yang cukup jauh dari apartemennya.
Baru saja dia ingin menyebrangi jalan, dia melihat seorang pria yang sangat dikenalnya. Bahkan pria itu selalu bertemu dan dilihatnya setiap hari.
"Haruto?"
Thania ingin menghampiri Haruto yang sedang berada di sebuah taman. Namun baru saja beberapa langkah, Thania di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita cantik dan cukup tinggi. Wanita tersebut menghpiri Haruto dan langsung memeluknya. Bahkan Haruto mengecup kening wanita tersebut.
Thania terdiam. Dia terpatung melihat kejadian tersebut.
Haruto yang merasakan ada seorang yang menatapnya, langsung menoleh dan menemukan Thania yang terdiam tepat di pintu masuk taman.
"Thania?" Haruto memanggil dengan pelan.
Wanita yang bersama Haruto pun ikut menoleh dan kembali menatap Haruto.
Thania berlari meninggalkan Haruto. Dia terus berlari walau telah mendengar teriakan Haruto yang memanggil namanya.
"Kenalan?" Thania memasuki sebuah restoran mahal. Dia duduk di meja yang berada dekat dnegan jendela dan menumpu kepalanya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan lainnya membalikkan buku menu untuk mencari makanan yang di sukainya.
"Steak saja yang medium."
Thania memberikan buku menu itu kepada pelayan dan menunggu pesanannya. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dan membawa sebotol anggur. Pelayan itu menawarkan Thania anggur tersebut.
"Hmm.. Baiklah. Aku juga sedang pusing saat ini."
Dengan berakhirnya kata itu, pelayan tadi menuangkan anggur tersebut dan meletakkan botol anggur itu di tempat penuh es.
Thania meminum anggur di gelasnya dengan perlahan. Baru saja Thania ingin menuang kembali untuk gelas kedua, makanan yang di pesannya datang. Thania mulai memakan makanannya. Saat matanya menoleh keluar jendela, sekali lagi dia melihat Haruto bersama wanita itu. Dan kini, Haruto menggenggam tangan wanita itu.
Thania menghabiskan makanannya dan membayar pesanannya. Dengan cepat dia kembali ke apartemennya.
Setelah sampai, Thania melempar tubuhnya keatas ranjangnya. Membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak kencang dengan apa yang di lihatnya.
Haruto yang baru sampai di depan pintu apartemen mereka mendengar teriakan Thania. Dengan panik Haruto berlari masuk dan melihat Thania yang masih membenamkan wajahnya.
Samar samar Haruto mendengar perkataan Thania. Dan hal itu membuat Haruto tersenyum kecil.
"Aku pulang."
Thania berpindah posisi menjadi duduk. Dia menatap tajam Haruto dan langsung membuang muka. Haruto bingung dan menghampiri Thania.
"Jangan mendekat. Disana saja. Kalau mau makan ada nasi dan steak untukmu di meja makan. Aku ingin melanjutkan novelnya." Jawab Thania dengan kesal.
Haruto tidak mengindahkan perkataan Thania. Haruto menahan tangan Thania yang mulai berjalan menjauh kearah meja kerjanya dan menariknya untuk menghadap kearahnya.
"Kau ini kenapa? Dan mengapa kau ada di taman?"
"Bukan urusanmu. Jika kau tidak ingin makan, masukkan kedalam lemari es saja. Biar besok aku yang makan."
Thania menarik tangannya dengan kasar dan meninggalkan Haruto yang masih bingung dengan semua ini.
"Thania." Panggil Haruto lalu memeluk wanita yang tinggal dengannya itu dari belakang.
"Apa?"
"Kau ini kenapa?"
"Tidak apa apa. Bukannya kau sibuk dan akan pulang malam? Mengapa kau pulang cepat?"
"Thania. Semenjak kamu melihatku di taman, kamu jadi aneh."
"Aneh? Aku baik-baik saja."
"Tha-"
"Bisa berhenti menggangguku? Atau kamu kembali saja dengan wanita yang kau cium itu."
"Cemburu?"
"......"
Thania terdiam dan mulai mengambil headphone miliknya. Dia menyalakan lagu di ponselnya dan memakai volume paling besar agar dia tidak mendengar suara Haruto.
Dia tahu Haruto masih mencoba memanggilnya dan berbicara padanya. Tapi Thania terus mengacuhkannya.
Tanpa berpikir panjang, Haruto mencabut Headphone di telinga Thania dan memutar kursi milik wanita tersebut. Thania membulatkan matanya saat Haruto mencium bibir Thania dengan kasar.
"Thania. Dia kakak kelasku dulu. Dia sudah ku anggap kakak ku sendiri. Jangan seperti ini."
Thania menghela napasnya dnegan berat.
"Aku masih ingin kerja. Sebaiknya aku melanjutkan kerjaanku sebelum aku lupa."
"T-"
"Kau juga kerja sana. Semakin kita cepat selesai uang kita akan cepat datang."
"Thania aku sungguh-sungguh."
"....."
"Thania.. Aku..."
Thania menyimpan hasil ketikannya kedalam flashdisk miliknya. Dia mematikan komputernya dengan cepat dan langsung membawa keluar laptopnya.
"Aku ada di cafe lobby."
"Baiklah."
Dengan keluarnya Thania, Haruto melempar barang yang dibelinya untuk Thania. Sebuah gaun biru dengan hiasan pita di pinggang kanan dan satu set alat gambar yang sangat di inginkan oleh Thania.
"Siapa wanita gatel itu?" Thania semakin kesal saat mengingat apa yang dia lihat tadi.
Thania duduk di ruang tamu apartemen mereka. Dengan menyilangkan kakinya dan melipat tangannya di dadanya, Thania terus menunggu Haruto pulang.
Thania melirik jam di ruangan tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.
Perut Thania sudah berbunyi sedari tadi. Dengan wajah masih kesal, Thania memakai jaketnya dan keluar dari apartemen mereka. Thania berjalan ditengah keramaian dan mencari tempat makan yang cukup jauh dari apartemennya.
Baru saja dia ingin menyebrangi jalan, dia melihat seorang pria yang sangat dikenalnya. Bahkan pria itu selalu bertemu dan dilihatnya setiap hari.
"Haruto?"
Thania ingin menghampiri Haruto yang sedang berada di sebuah taman. Namun baru saja beberapa langkah, Thania di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita cantik dan cukup tinggi. Wanita tersebut menghpiri Haruto dan langsung memeluknya. Bahkan Haruto mengecup kening wanita tersebut.
Thania terdiam. Dia terpatung melihat kejadian tersebut.
Haruto yang merasakan ada seorang yang menatapnya, langsung menoleh dan menemukan Thania yang terdiam tepat di pintu masuk taman.
"Thania?" Haruto memanggil dengan pelan.
Wanita yang bersama Haruto pun ikut menoleh dan kembali menatap Haruto.
Thania berlari meninggalkan Haruto. Dia terus berlari walau telah mendengar teriakan Haruto yang memanggil namanya.
"Kenalan?" Thania memasuki sebuah restoran mahal. Dia duduk di meja yang berada dekat dnegan jendela dan menumpu kepalanya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan lainnya membalikkan buku menu untuk mencari makanan yang di sukainya.
"Steak saja yang medium."
Thania memberikan buku menu itu kepada pelayan dan menunggu pesanannya. Tak lama seorang pelayan datang menghampiri dan membawa sebotol anggur. Pelayan itu menawarkan Thania anggur tersebut.
"Hmm.. Baiklah. Aku juga sedang pusing saat ini."
Dengan berakhirnya kata itu, pelayan tadi menuangkan anggur tersebut dan meletakkan botol anggur itu di tempat penuh es.
Thania meminum anggur di gelasnya dengan perlahan. Baru saja Thania ingin menuang kembali untuk gelas kedua, makanan yang di pesannya datang. Thania mulai memakan makanannya. Saat matanya menoleh keluar jendela, sekali lagi dia melihat Haruto bersama wanita itu. Dan kini, Haruto menggenggam tangan wanita itu.
Thania menghabiskan makanannya dan membayar pesanannya. Dengan cepat dia kembali ke apartemennya.
Setelah sampai, Thania melempar tubuhnya keatas ranjangnya. Membenamkan wajahnya di bantal dan berteriak kencang dengan apa yang di lihatnya.
Haruto yang baru sampai di depan pintu apartemen mereka mendengar teriakan Thania. Dengan panik Haruto berlari masuk dan melihat Thania yang masih membenamkan wajahnya.
Samar samar Haruto mendengar perkataan Thania. Dan hal itu membuat Haruto tersenyum kecil.
"Aku pulang."
Thania berpindah posisi menjadi duduk. Dia menatap tajam Haruto dan langsung membuang muka. Haruto bingung dan menghampiri Thania.
"Jangan mendekat. Disana saja. Kalau mau makan ada nasi dan steak untukmu di meja makan. Aku ingin melanjutkan novelnya." Jawab Thania dengan kesal.
Haruto tidak mengindahkan perkataan Thania. Haruto menahan tangan Thania yang mulai berjalan menjauh kearah meja kerjanya dan menariknya untuk menghadap kearahnya.
"Kau ini kenapa? Dan mengapa kau ada di taman?"
"Bukan urusanmu. Jika kau tidak ingin makan, masukkan kedalam lemari es saja. Biar besok aku yang makan."
Thania menarik tangannya dengan kasar dan meninggalkan Haruto yang masih bingung dengan semua ini.
"Thania." Panggil Haruto lalu memeluk wanita yang tinggal dengannya itu dari belakang.
"Apa?"
"Kau ini kenapa?"
"Tidak apa apa. Bukannya kau sibuk dan akan pulang malam? Mengapa kau pulang cepat?"
"Thania. Semenjak kamu melihatku di taman, kamu jadi aneh."
"Aneh? Aku baik-baik saja."
"Tha-"
"Bisa berhenti menggangguku? Atau kamu kembali saja dengan wanita yang kau cium itu."
"Cemburu?"
"......"
Thania terdiam dan mulai mengambil headphone miliknya. Dia menyalakan lagu di ponselnya dan memakai volume paling besar agar dia tidak mendengar suara Haruto.
Dia tahu Haruto masih mencoba memanggilnya dan berbicara padanya. Tapi Thania terus mengacuhkannya.
Tanpa berpikir panjang, Haruto mencabut Headphone di telinga Thania dan memutar kursi milik wanita tersebut. Thania membulatkan matanya saat Haruto mencium bibir Thania dengan kasar.
"Thania. Dia kakak kelasku dulu. Dia sudah ku anggap kakak ku sendiri. Jangan seperti ini."
Thania menghela napasnya dnegan berat.
"Aku masih ingin kerja. Sebaiknya aku melanjutkan kerjaanku sebelum aku lupa."
"T-"
"Kau juga kerja sana. Semakin kita cepat selesai uang kita akan cepat datang."
"Thania aku sungguh-sungguh."
"....."
"Thania.. Aku..."
Thania menyimpan hasil ketikannya kedalam flashdisk miliknya. Dia mematikan komputernya dengan cepat dan langsung membawa keluar laptopnya.
"Aku ada di cafe lobby."
"Baiklah."
Dengan keluarnya Thania, Haruto melempar barang yang dibelinya untuk Thania. Sebuah gaun biru dengan hiasan pita di pinggang kanan dan satu set alat gambar yang sangat di inginkan oleh Thania.
Di lobi, Thania tidak menyalakan laptopnya malah ia bermain dengan handphonenya.
"Dasar tukang bohong, Kaka kelas ? jangan becanda, mana ada kaka kelas pake acara cium di kening segala, kamu kira ini di UK, USA ? atau negara eropa dan barat ? Arggggg"
Thania berbicara sendiri dengan pelan sambil melihat jaringan sosial milik Haruto
"Maaf, boleh kenalan gak ?"
Thania pun menoleh ke orang yang berbicara kepadanya, seorang laki laki tampan, dengan penampilan keren, tubuhnya juga sangat bagus.
Thania pun menoleh ke kiri dan kekanan
"Aku ?"
tanya Thania sambil menunjuk wajahnya sendiri
"Iya kamu"
laki laki itu tersenyum dan menyodorkan tangan kananya untuk berjabat tangan
"Kenalin nama ku Aldi"
"Thania"
balas Thania dengan senyuman manisnya, kemudian thania membenarkan rambutnya.
"Kelihatanya lagi kesal, lagi berantem sama cowonya yah ?"
"Enggak, lagi kesal sama teman aja"
"Teman di jaringan sosial ?" Aldy melihat ke laptop milik Thania
"Iya nih"
Haruto pun keluar dari kamar apartemen dan menyusul Thania, saat itu ia melihat Thania sangat akrab berbicara dengan seorang laki laki tampan dengan pakaian yang terlihat sangat mahal. Haruto langsung melangkah dan duduk di samping Thania, tanpa perdulikan yang lain, Thania pun acuh tidak acuh dengan Haruto karena ia sangat kesal.
"Oh iya mau minum apa Aldi?"
tanya Thania
"Apa aja, yang penting dingin"
balas Aldi
"Oh namanya Aldi"
Haruto pura pura membaca koran yang ada di atas meja
"mamat!!"
"Ape Ci"
"Teh kotak 2 yang dingin"
"Beres Ci"
Mamat pun datang meletakan teh kotak dingin di atas meja mereka
"Aduh makasih banget loh"
Haruto langsung mengambil salah satu Teh Kotak tersebut, dan meminumnya dengan wajah tidak berdosa. Thania pun merasa tidak enak dengan Aldi.
"Mat!!"
"Ya Ci"
"Satu lagi"
"Teh kotaknya ?"
"Iya"
Mamat dengan senyum lebar pun datang membawa satu teh kotak lagi, dan Haruto sekali lagi langsung mengambil teh kotak di atas meja dan meminumnya.
"Ademmmmm"
"Apaan sih, itu aja belum habis, main ambil satu lagi"
"Thania kesel"
"Abisnya aus banget"
Haruto tersenyum kepada Thania, kemudian saat mengarah ke Aldi yang senyum kepada Haruto, Haruto membalas dengan raut wajah datar. Tiba tiba Haruto mencium pipi Thania. Thania langsung menoleh ke Haruto dan mencubit haruto dengan keras.
"eh Bos, Ngapain lu cium cium orang sembarangan di tempat seperti ini ?"
Aldi langsung marah dan berdiri
"Kenapa emang ? gak suka lu ?"
Balas Haruto dengan santai
"Iya gw gak suka"
Aldi menggenggam tanganya
haruto pun berdiri, dan ia melepas jaket yang ia gunakan. mamat pun memanggil teman temanya serta pasukan preman di apartemen dan langsung menghampiri Haruto.
"Bos ada apa bos?"
ujar salah seorang preman gadungan di apartemen, bahkan emak emak juga yamperin
"Siapa yang mau buat ribut di apartemen kita?"
Mpok marko sambil bawa sendok gorengan, Mpok Marko alias Mpok Markonah atau basa kerenya yang lain M.M seperti di film gankster di film holywood.
"udah udah"
Thania mencoba menenangkan mereka berdua
"Lu jadi cowo jangan gila ya, mulut lu gak di sekolahin apa main sosor aja"
Haruto pun langsung menarik tangan Thania, dan memeluknya dengan satu tangan.
"Oh ada orang yang mau rebut cintanya si Bos"
ujar Mpok Marko,
"Dengar baik baik Ali, Aldo. Aldi atau apapun nama lu, gw tidak akan serahin Thania ke siapapun, karena dia milik gw"
Haruto dengan nada keras
Mendengar Haruto mengatakan dirinya adalah milik Haruto, di depan orang banyak Thania pun sedikit senang, dan kekesalanya ke Haruto agak redah.
"Aldi maaf yah, dia ini cowo ku, dan kami tinggal bersama di apartemen ini"
Thania meminta maaf
"oh gak apa, ini kartu nama ku"
Aldi memberikan kartu nama kepada Thania, dan Thania menerima kartu nama tersebut, dengan wajah kesal yang ia tunjukan ke Haruto Aldi pun pergi dari Apartemen.
"Bubar!! Film FTV udah abis!!"
ujar mamat
"Yahhh kirain tadi jadi film action, gw udah bawa sendok gorengan lagi"
ujar Mpok Marko
"Iye ni mpok, aye udah manggil anak sama bini"
balas pak jarot
"udeh sono ngamar"
sahut Eneng janda anak satu
Thania dan haruto pun malu dan mereka meminta maaf ke semuanya kemudian mereka pergi, orang orang pun tertawa, dan gosip baru pun beredar dengan tajuk, Arjuno Vs Cogan.
Di kamar Thania pun melihat sebuah gaun dan alat gambar yang ia inginkan, waktu itu teringat, saat jalan berdua dengan haruto ia pernah mengatakan bagus, ternyata Haruto membelikan untuknya.
"Apa ni sogokan ?"
Thania dengan nada ketus
"Thania aku gak suka kamu sama tu cowo akrab banget"
"Ehhh, kamu yang duluan sama kaka kelas mu, pake acara cium kening segala"
Haruto pun langsung mencium bibir Thania lagi dengan kasar, tapi thania diam dan Pasrah, ciuman kasar tadi pun berubah dengan lembut, mulut thania pun terbuka, lidah Haruto masuk dan bermain dengan lidah Thania.
"Haruto..."
Thania dengan suara pelan
"ada apa?"
"Kamu bilang gak suka aku dekat dengan cowo lain selain kamu kan ?, Aku juga tidak suka jika kamu harus dekat dengan cewe lain, apa lagi cium cium di kening segala, apakah aku gak cukup untuk menuhin nafsu bibir mu ?"
Thania menunduk kan kepalanya sambil berbicara pelan
"MAAF"
Haruto meminta maaf, dan ia berjanji tidak akan mengulangi hall tersebut
"Terus kalo mau kemana mana harus bilang, kalo ga aku ikut"
"lain kali aku akan bilang"
Haruto pun langsung memeluk Thania. saat di pelukan haruto, Thania pun mendapat ide, dan ia melepaskan pelukan haruto, sambil tertawa, Haruto pun tersenyum, tingkah Thania sudah kembali seperti semula, dan ia mulai mengetik cerita untuk capter 3.
"Dasar tukang bohong, Kaka kelas ? jangan becanda, mana ada kaka kelas pake acara cium di kening segala, kamu kira ini di UK, USA ? atau negara eropa dan barat ? Arggggg"
Thania berbicara sendiri dengan pelan sambil melihat jaringan sosial milik Haruto
"Maaf, boleh kenalan gak ?"
Thania pun menoleh ke orang yang berbicara kepadanya, seorang laki laki tampan, dengan penampilan keren, tubuhnya juga sangat bagus.
Thania pun menoleh ke kiri dan kekanan
"Aku ?"
tanya Thania sambil menunjuk wajahnya sendiri
"Iya kamu"
laki laki itu tersenyum dan menyodorkan tangan kananya untuk berjabat tangan
"Kenalin nama ku Aldi"
"Thania"
balas Thania dengan senyuman manisnya, kemudian thania membenarkan rambutnya.
"Kelihatanya lagi kesal, lagi berantem sama cowonya yah ?"
"Enggak, lagi kesal sama teman aja"
"Teman di jaringan sosial ?" Aldy melihat ke laptop milik Thania
"Iya nih"
Haruto pun keluar dari kamar apartemen dan menyusul Thania, saat itu ia melihat Thania sangat akrab berbicara dengan seorang laki laki tampan dengan pakaian yang terlihat sangat mahal. Haruto langsung melangkah dan duduk di samping Thania, tanpa perdulikan yang lain, Thania pun acuh tidak acuh dengan Haruto karena ia sangat kesal.
"Oh iya mau minum apa Aldi?"
tanya Thania
"Apa aja, yang penting dingin"
balas Aldi
"Oh namanya Aldi"
Haruto pura pura membaca koran yang ada di atas meja
"mamat!!"
"Ape Ci"
"Teh kotak 2 yang dingin"
"Beres Ci"
Mamat pun datang meletakan teh kotak dingin di atas meja mereka
"Aduh makasih banget loh"
Haruto langsung mengambil salah satu Teh Kotak tersebut, dan meminumnya dengan wajah tidak berdosa. Thania pun merasa tidak enak dengan Aldi.
"Mat!!"
"Ya Ci"
"Satu lagi"
"Teh kotaknya ?"
"Iya"
Mamat dengan senyum lebar pun datang membawa satu teh kotak lagi, dan Haruto sekali lagi langsung mengambil teh kotak di atas meja dan meminumnya.
"Ademmmmm"
"Apaan sih, itu aja belum habis, main ambil satu lagi"
"Thania kesel"
"Abisnya aus banget"
Haruto tersenyum kepada Thania, kemudian saat mengarah ke Aldi yang senyum kepada Haruto, Haruto membalas dengan raut wajah datar. Tiba tiba Haruto mencium pipi Thania. Thania langsung menoleh ke Haruto dan mencubit haruto dengan keras.
"eh Bos, Ngapain lu cium cium orang sembarangan di tempat seperti ini ?"
Aldi langsung marah dan berdiri
"Kenapa emang ? gak suka lu ?"
Balas Haruto dengan santai
"Iya gw gak suka"
Aldi menggenggam tanganya
haruto pun berdiri, dan ia melepas jaket yang ia gunakan. mamat pun memanggil teman temanya serta pasukan preman di apartemen dan langsung menghampiri Haruto.
"Bos ada apa bos?"
ujar salah seorang preman gadungan di apartemen, bahkan emak emak juga yamperin
"Siapa yang mau buat ribut di apartemen kita?"
Mpok marko sambil bawa sendok gorengan, Mpok Marko alias Mpok Markonah atau basa kerenya yang lain M.M seperti di film gankster di film holywood.
"udah udah"
Thania mencoba menenangkan mereka berdua
"Lu jadi cowo jangan gila ya, mulut lu gak di sekolahin apa main sosor aja"
Haruto pun langsung menarik tangan Thania, dan memeluknya dengan satu tangan.
"Oh ada orang yang mau rebut cintanya si Bos"
ujar Mpok Marko,
"Dengar baik baik Ali, Aldo. Aldi atau apapun nama lu, gw tidak akan serahin Thania ke siapapun, karena dia milik gw"
Haruto dengan nada keras
Mendengar Haruto mengatakan dirinya adalah milik Haruto, di depan orang banyak Thania pun sedikit senang, dan kekesalanya ke Haruto agak redah.
"Aldi maaf yah, dia ini cowo ku, dan kami tinggal bersama di apartemen ini"
Thania meminta maaf
"oh gak apa, ini kartu nama ku"
Aldi memberikan kartu nama kepada Thania, dan Thania menerima kartu nama tersebut, dengan wajah kesal yang ia tunjukan ke Haruto Aldi pun pergi dari Apartemen.
"Bubar!! Film FTV udah abis!!"
ujar mamat
"Yahhh kirain tadi jadi film action, gw udah bawa sendok gorengan lagi"
ujar Mpok Marko
"Iye ni mpok, aye udah manggil anak sama bini"
balas pak jarot
"udeh sono ngamar"
sahut Eneng janda anak satu
Thania dan haruto pun malu dan mereka meminta maaf ke semuanya kemudian mereka pergi, orang orang pun tertawa, dan gosip baru pun beredar dengan tajuk, Arjuno Vs Cogan.
Di kamar Thania pun melihat sebuah gaun dan alat gambar yang ia inginkan, waktu itu teringat, saat jalan berdua dengan haruto ia pernah mengatakan bagus, ternyata Haruto membelikan untuknya.
"Apa ni sogokan ?"
Thania dengan nada ketus
"Thania aku gak suka kamu sama tu cowo akrab banget"
"Ehhh, kamu yang duluan sama kaka kelas mu, pake acara cium kening segala"
Haruto pun langsung mencium bibir Thania lagi dengan kasar, tapi thania diam dan Pasrah, ciuman kasar tadi pun berubah dengan lembut, mulut thania pun terbuka, lidah Haruto masuk dan bermain dengan lidah Thania.
"Haruto..."
Thania dengan suara pelan
"ada apa?"
"Kamu bilang gak suka aku dekat dengan cowo lain selain kamu kan ?, Aku juga tidak suka jika kamu harus dekat dengan cewe lain, apa lagi cium cium di kening segala, apakah aku gak cukup untuk menuhin nafsu bibir mu ?"
Thania menunduk kan kepalanya sambil berbicara pelan
"MAAF"
Haruto meminta maaf, dan ia berjanji tidak akan mengulangi hall tersebut
"Terus kalo mau kemana mana harus bilang, kalo ga aku ikut"
"lain kali aku akan bilang"
Haruto pun langsung memeluk Thania. saat di pelukan haruto, Thania pun mendapat ide, dan ia melepaskan pelukan haruto, sambil tertawa, Haruto pun tersenyum, tingkah Thania sudah kembali seperti semula, dan ia mulai mengetik cerita untuk capter 3.
Di lobi tiba tiba Ketua RT muncul.
"Mamat!" panggil Pak Anas Ketua RT
"Ada ape te?" Tanya Mamat
"Ah macam pula kau mat, sudah kubilang kalo ada apa apa panggil lah aku" Ujar Pak Anas
"Tadi si Eneng udah manggil lu Te, tapi lunya aja gak nongol nongol" Mamat
"Bah... Aku lagi tidur tadi" Anas
"Tapi tenang Te, Pasukan ke amanan Apartemen udah selesain masalah" Mamat Penuh percaya diri
"Ya sudah kalo begitu, ngomong ngomong lai" Anas
"mamat te, bukan lai" Mamat
"bah, sama saja mat, kau seperti baru kenal saya saja" Anas
"Emang mau nanya apa te ?" mamat
"tadi RW dating juga ?" Anas
"enggak te, Pak RW tak dating" Mamat
"Baguslah" Anas
"gak beli jajan Te ?" tawar Anas
"Rokok super 1 bungkus Mat" Anas
"Ok Bos RT" mamat
"Alah kau mat mat" Anas sambil memberikan uang kepada mamat
Ke esokan harinya,
haruto melihat ke jam dinding, ternyata masih jam tiga subuh. Haruto
melihat ke kanan dimana thania ternyata terbangun juga.
"ada apa kok bangun jam segini ?" Tanya Thania
"hanya ke bangun kok, kalo kamu ?" haruto
"aku masih ke pikiran untuk sebuah adegan di Light Novel yang kita buat" Thania
"bagian ?" haruto
"Itu, adegan sex" Thania
"Tinggal lihat Video sex kan" timpal Haruto
"Haruto..." Thania
"Kenapa ?" Haruto
"Bisa gak melakukan sex tanpa ke hilangan keperawanan ?" Thania
"Masturbasi aja sana biar tau" Haruto kembali merebahkan badanya
"Dasar cowo bego" Thania
Mereka pun tidur sambil membelakangi, beberapa saat kemudian
"Haruto... emang kamu pernah masturbasi?" Tanya Thania
"Gak lah, aku takut kena Ejakulasi dini" Haruto
"Masa gak pernah?" Thania
"Sekarang aku Tanya sama kamu, pernah masturbasi gak ?" Haruto
"Pernah" Thania
"Enak ?" Haruto
"Bego" Thania
Mereka berdua pun
terdiam. Suara kipas pendingin ruangan terdengar dengan jelas. Karena
saking sepinya. Haruto pun membalikan tubuhnya ke arah Thania, saat itu
ternyata Thania menyadari bahwa Haruto tidak tidur. Ia pun hanya diam
pura pura tidur.
"Sepertinya dia udah tertidur" Haruto sambil melihat wajah Thania.
Pelan pelan Haruto
langsung berada di atas tubuh thania, thania merasakan seluruh tubuhnya
menyentuh tubuh Haruto. Nafasnya Haruto sangat terasa, dan Thania pun
membuka kedua matanya, haruto yang terkejut, thania pun mengalungkan
tanganya ke leher Haruto.
"Jadi mau apa saying..." Thania
"......." Haruto
Mereka saling bertatapan mata
"gimana kita mulai dari ciuman ?" Tanya Haruto
Thania pun hanya diam
saja, dan memeluk tubuh haruto. Haruto tidak membebankan berat badanya
kepada Thania, karena tumpuan tanganya di samping Thania. Perlahan kedua
tangan Thania meraih kancing celana Haruto dan melepasnya.
"susah banget bukanya" Thania malah kesal
"ah ancur modnya kan" Haruto bangkit duduk di samping Thania
Thania pun bangkit dan duduk bersila.
"Buka gak!?" pinta thania kasar
"Ih lu seperti cewe nafsuan yah" Haruto
"Bodo, lu buka gak sekarang!" Pinta Thania sambil nenunjuk celana Haruto
"Lu mau lihat Burung gw apa !?" Haruto
"Dih ni cowo beloonnya ke bangetan yah" Thania
Haruto pun menjaga jarak dari thania
"Masih perawan aja aggressive seperti ini, gimana entar gw perawanin" Haruto
Thania pun menerjang Haruto, dan tanganya terus mencoba membuka kancing celana Haruto.
"Bentar bentar" haruto menangkap kedua tangan Thania
"Lepasin gak" Thania sedikit kesal
"Berikan gw alasan untuk ini semua" Haruto
"Mau alasan..." Thania dengan nada pelan
Ia pun berdiri dan
membuka baju tidur dan celananya, hingga terlihat Bra dan Celana
dalamnya yang tipis serta berenda tersebut. Haruto yang melihat kejadian
itu pun menelan air liurnya.
"Sekarang apa masih butuh alasan ?" Thania duduk kembali dan membuka Bra miliknya
Haruto pun mendekati
Thania, dan tubuh Thania jatuh ke atas kasur yang lembut tersebut,
Haruto mulai mencumbu Thania. Hingga Thania mengeluarkan suara yang ia
tahan.
"Celaka, aku mengeluarkan suara itu" Thania berbicara dalam hatinya
"Suara mu nakal juga" Bisik Haruto
"Bisa hentikan ?" Thania
"Gak mau" Haruto
"Aku sudah mendapatkan idenya" Thania
"Enak aja, tanggung tau" Haruto
"Dih entar hilang idenya" Thania
"Entar juga muncul lagi Idenya" Haruto
Thania tidak kuasa
menahan lagi, di taman tangan Haruto, mulai membuka celana dalamnya,
thania pun menutupi daerah sensitivenya dengan tangan kedua tanganya.
"Kenapa di tutupin ?" Haruto
"Entah kenapa aku takut" Thania
"Kamu yang maksa duluan juga" Haruto membuka celananya
Ini pertama kali Thania
melihat secara langsung milik seorang laki laki, dan itu mengeras.
Thania semakin ketakutan melihat hall tersebut.
"Belalai mu!" Thania
"Wajar dia mengeras" Haruto mendekap tubuh thania Lagi.
"Boleh aku pegang ?" Thania
"Pegang aja sesuka mu" Haruto
Perlahan thania
menyentuh belalai milik Haruto, dan ia pegang Haruto merasakan tangan
Thania menggenggam belalainya dengan keras.
"Jangan keras keras sakit" haruto
"Abisnya aku mau tau aja gimana" Thania
Haruto mencium leher Thania, dengan pelan kemudian ia menggit kuping thania dengan lembut.
"ahh" Thania
Suara handphone pun bordering dengan keras
"Handphone mu" Thania
"Siapa sih jam segini ganggu aja" Haruto
Haruto pun mengambil Handphone miliknya, dan memeriksa isi pesan
"Yes!" Thania terlihat sangat senang
Setelah meletakan handphonenya Haruto melihat kearah Thania.
"Thania, aku harus pergi" Haruto
"Mau kemana ?" Tanya Thania
"Aku harus kembali ke jepang" Haruto
"Ikut" Thania
"Gak bisa, soalnya ada urusan keluarga " Haruto mengusap rambut kepala Thania
"Berapa lama ?" Thania
"Entahlah" Haruto
"Jangan lama lama" Thania
"Aku usahakan" Haruto
Thania melihat Haruto
yang mulai berkemas, Ia pun hanya bisa berdiam diri, rasa sedih, takut,
semua persaan itu bercampur menjadi satu.
Comment Now
0 comments
Please wait....
Disqus comment box is being loaded