Book 6

Font Size :
Dark Mode
Reset Mode
Ignea, adalah kota terbesar dan termegah di kerajaan Eos. Pusat perdagangan yang selalu ramai, semua kebutuhan, pakaian, pernak-pernik, hingga barang langka ada di sini. Kota yang sangat megah yang selalu dipadati oleh pengunjung. Akan tetapi, di balik kemegahannya itu terdapat sisi gelap yang tidak di sadari. Perdagangan budak, prostitusi, pasar gelap dan pencurian yang tidak dapat dihindari.
Di kota itu ada seorang pengembara yang baru saja tiba. Yukesaintz, ia adalah seorang prajurit perang yang asal-usulnya pun tidak ada yang mengetahui. Yuke masuk ke bar dan mengambil tempat duduk, ia memesan segelas bir dingin. Mencoba mencari informasi pekerjaan yang bisa ia lakukan di ignea, karena dia memang sudah hampir tidak punya uang setelah lama mengembara. Yuke yang selalu membawa pedang besarnya menarik perhatian orang-orang di bar. Setelah beristirahat, Yuke mulai berjalan untuk mencari penginapan. Sekilas matanya tertuju ke seorang pengemis di pinggir jalan. Yuke memutuskan untuk menyewa sebuah kamar di penginapan yang tidak jauh dari bar itu karena penginapan dekat bar lebih murah dari penginapan yang lain. Setiap harinya Yuke membuka jendela kamarnya, ia melihat pengemis tersebut terlihat sangat tergesa-gesa. Ternyata ia mengumpulkan sisa-sisa sayuran segar yang tidak layak dijual karena daun sayurnya ada yang busuk, buah-buahan yang sedikit busuk, semua di kumpulkan oleh pengemis itu. Yuke semakin penasaran dengan pengemis tersebut.
Saat ia lihat dari dekat Yuke menyadari bahwa pengemis tersebut terlihat sangat akrab dengan penjaga dan orang-orang di sekitar, mereka mamanggilnya Shiro.
"Kasihan nasib Shiro, seorang kuturunan bangsawan yang menjadi seorang pengemis, ia tinggal sendirian, apa yang dipikirkan raja kita?" Yuke mendengar pembicaraan seseorang dengan prajurit.
Yuke membuntuti Shiro dari belakang. Hari semakin sore, Shiro pun menuju sebuah gubuk di luar benteng kerajaan Eos. Disana ia membersihkan sayuran dan buah-buahan yang ia dapat dari orang-orang. Tiba-tiba datang beberapa anak kecil mereka menyambut dengan Shiro.
Tanpa Yuke sadari, kakinya membeku.
"Oh tidak, ini sihir sorcerer" ujar yuke.
Shiro pun berjalan keluar rumah dan menghampiri Yuke.
"Siapa kau?" tanya Shiro dengan nada kasar.
"Maaf, aku hanya kebetulan lewat." Yuke mencoba berdalih.
"Aku tahu kau mengikutiku seharian ini." jawab Shiro sambil mengitari Yuke dengan tatapan penuh curiga.
"Jangan takut, aku bukan orang jahat." Yuke mencoba menyakinkan Shiro.
Shiro pun menjentikan jarinya, sihir pembeku di kaki Yuke pun langsung lenyap.
"Pergilah." Shiro mengusir Yuke.
"Maaf, namaku Yukestainz seorang ahli pedang." Yuke mencoba memperkenalkan diri.
"Hus hus hus" Shiro mengusir Yuke.
"Aku tidak akan pergi" Yuke bersikeras.
"Dasar orang kampung, suka-suka kamu lah." ujar Shiro kesal.
"Kau pernah melihatnyakan?" Yuke dengan nada lantang.
"Melihat apa?" Shiro masih membelakangi Yuke.
"Soyga, Codex Aldaria" Yuke mencoba membasuh akan rasa penasaranya.
"Dari mana kau tahu soal Codex itu?" Shiro dengan raut wajah serius.
"Aku tahu saat kau menggunakan sihir pemebekumu, bagaimana mungkin kau bisa menggunakan sihir es sejauh itu." ujar Yuke.
"Masuklah, di luar saat malam hari sangat berbahaya." Shiro menyuruh Yuke masuk ke dalam rumahnya.
Di rumah Umbrella Zyna dan Intt berdua di dalam kamar Intt.
"Zyna aku sedikit penasaran dengan kemampuanmu mampu menafsirkan mantra sihirku." Ujar Intt yang masih lemah setelah peperangan itu.
"Kau pemegang Codex Liecester kan?" Zyna tersenyum.
"Kalo begitu jika tidak salah kamu pemilik dari Codex Sherapin?" tanya Intt.
"Yaap, aku pemiliknya yang baru." Zyna tersenyum.
Shiro memiliki Codex Aldaria, yang disebut pemiliknya adalah orang yang pernah membaca serta mengetahui akan isi Codex Aldaria. Menurut legenda setelah perperangan para dewa dan bangsa Titan, bangsa Titan berhasil menguasai Aldebaran. Aldebaran adalah perpustakaan langit milik dewa dan dewi. Dalam perperangan tersebut Dewa dan Dewi memaksa para Titan untuk meninggalkan Aldebaran. Seorang Titan bernama Ymir telah membaca Codex tersebut, ia pun mendapat pemahaman yang sangat mendalam. Ia sadar Codex tidak boleh di pegang oleh siapapun. Manusia maupun Dewa serta Dewi. Loki mengetahui akan hal tersebut bahwa Titan bernama Ymir telah membawa Codex tersebut. Loki memburu Ymir hingga ke Underworld. Dalam persembunyianya Ymir membagi Codex menjadi tujuh bagian.
Tiga ribu tahun lamanya Ymir bersembunyi, akhirnya ia pun kehabisan tempat bersembunyi karena Loki terus mengejarnya. Akhirnya di saat-saat terakhir, Ymir merapal mantra membuat 7 Codex tersebut menyebar ke seluruh dunia dan alam.
"Jadi apa yang ingin kamu ketahui Yuke?" Tanya Shiro.
"Soal Codex?" Yuke duduk santai.
"Oh jadi kamu tertarik akan Codex itu?" tanya Shiro.
"Sebetulnya aku penasaran saja." Yuke tersenyum.
"Aku harap tidak ada manusia lagi yang mencari Codex, karena jika Codex terkumpul mala petaka akan terjadi." Shiro dengan nada pelan.
"Aku tidak ingin tahu isi Codex tersebut tapi, aku hanya ingin tahu akan kemampuan pemilik dari Aldaria Codex." Yuke dengan santai.
"Baiklah baiklah, tunggu disini." Shiro meminta Yuke menunggu.
Shiro pun pergi meninggalkan Yuke sendirian, di dalam kamar. Shiro mulai mengganti pakaiannya dan mengurai rambutnya. Setengah jam kemudian Shiro kembali menemui Yuke. Yuke terpana saat melihat Shiro.
"Shiro?" tanya Yuke heran.
"Ya, aku Kanzaki Shiro." Shiro dengan nada pelan.
"Maaf sebelumnya, apakah kamu seorang perempuan?" tanya Yuke.
"Aku laki-laki." Shiro dengan nada tegas.
"Astaga.... Kamu benar-benar seperti perempuan, badanmu, wajahmu, rambutmu, hingga semuanya adalah perempuan. Kau memiliki paras yang cantik dan manis, ditambah matamu yang bulat berwarna biru" ujar Yuke.
"Kau tahu? Inilah yang terjadi saat kau memiliki Codex Aldaria." Shiro terlihat sedih.
"Menarik, pasti banyak laki-laki yang tertipu kan?" goda Yuke.
"Hmm............" Shiro terlihat kesal.
"Aku sedang mencari guild apa kau tahu?" tanya Yuke.
"Yang aku tahu, ada guild yang cukup bagus. Mereka juga cukup terkenal. Mereka ada di kota Mneme." Shiro memberikan informasi.
"Cukup? Cukup katamu? Baiklah, itu cukup memberikan informasi. Ayo ikut aku." ajak Yuke.
"Ha? Ikut denganmu? Mana bisa? Lihatlah, anak-anak di sini masih sangat membutuhkanku." Shiro melihat anak-anak korban perang yang sedang makan malam.
"Kalau begitu, kita ajak mereka juga." Yuke dengan penuh semangat.
"Kau memang gila. Tapi akan pertimbangkan dulu, memang mereka butuh sebuah Guild untuk melindungi mereka. Aku tidak akan mampu melindungin mereka sendirian jika sesuatu yang buruk terjadi." Shiro masih melihat wajah ceria anak-anak tersebut.
Share Tweet Share

Comment Now

0 comments

Please wait....
Disqus comment box is being loaded