Book 1

Font Size :
Dark Mode
Reset Mode
Telah lama mengembara, Kuroku pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Disela perjalanannya, Kuroku menghampiri makam kekasihnya Vivid. Vivid adalah wanita dari bangsa elf tercantik di dalam hatinya. Pohon yang menaungi makam Vivid semakin subur setelah lama ditinggalkan oleh Kuro. Kuroku adalah jenderal yang kuat, namun dia tetap tidak bisa menahan air matanya saat menemui makan Vivid.
Saat 10 tahun yang lalu saat perang di kerajaan Eos masih berlangsung, mereka adalah 2 jenderal besar dari guild Umbrella yang diagungkan.
"Kuroku, kau harus menahan jalur gerbang selatan istana." ujar Vivid sambil menembakan busur panahnya di tengah perang bersalju.
"Baiklah, kita ke sana sekarang." jawab Kuroku.
"Tidak Kuro, aku dan pasukanku akan menahan serangan di sini. Kau cepatlah pergi ke gerbang selatan." tolak Vivid meminta Kuroku untuk segera pergi ke gerbang selatan.
"Baiklah. Eh ya Vivid," Kuroku mendekati Vivid "Setelah perang ini selesai, aku akan melamarmu." bisiknya pelan.
"Dasar kau ini, aku tunggu janjimu" balas Vivid tersenyum.
Suara ledakan pun terjadi di mana-mana. Musuh menggunakan pelontar api, untuk menghancurkan bagian dalam benteng pertahanan terakhir kerajaan Eos.
"Hiduplah Kuro," dalam hati Vivid sambil melihat punggung Kuroku yang semakin menjauh.
"Jenderal kiri Vivid, ini gawat. Musuh sudah menghancurkan pertahanan utama." Edward menghampiri Vivid.
Vivid melihat pasukannya yang masih bertahan.
"Semua rapatkan barisan jadikan 3 lapis barisan, tembakan busur panah kalian secara bergantian!" dengan suara lantang Vivid memberikan perintah ke pasukannya.
Mendengar perintah tersebut, pasukan di bawah jenderal kiri Vivid dengan spontan membentuk barisan. Serangan yang dilancarkan oleh pasukan dapat menghambat pasukan musuh.
Pertempuran sengit terlihat di gerbang selatan, Kuro pun berlari pelan dan perlahan menjadi cepat dan sangat cepat. Kemudian ia melompat dan langsung menyerang. Barisan utama musuh berantakan, Kuroku bertarung sendirian. Gerakan dan refleks yang cepat adalah kelebihan dari seorang teknik rogue. Kuro pun dapat memperlambat pergerakan musuh. Tidak lama pasukan bantuan pun datang. Tanpa berfikir panjang mereka langsung membantu jenderal kanan mereka, Kuroku.
Acrux, ketua guild Umbrella yang berada di garis depan hanya dapat bertahan dengan pasukannya dan menunggu tentara yang dipimpin oleh pahlawan. Dari pagi hingga menjelang sore, peperangan tetap berlangsung. Pahlawan pun tiba bersama 50.000 tentara imperial langsung menyerang dari garis belakang musuh. Cuaca bersalju memang sangat berat dan kurang mendukung, sehingga stamina dan daya tahan tubuh menjadi poin penting dalam bertarung. Panah pasukan Ballista dari sisi kanan mengenai perut Acrux, tak mampu terselamatkan Acrux gugur dalam pertempuran ini. Para prajurit melihat Acrux, mereka tidak menerimakan gugurnya pemimpin mereka dan membalas lawan secara brutal.
Beberapa jam kemudian bendera berwarna merah pun berkibar, menandakan musuh telah kalah. Kuroku pun tersandar setelah menghabisi banyak musuh dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Tentara medis pun berdatangan, mereka memberikan pertolongan pertama terhadap Kuroku. Kuroku pun berjalan menuju gerbang utama tempat dimana Vivid berada. Baru saja berjalan kurang lebih dua ratus meter ia mulai melihat orang-orang yang sangat ia cintai, dengan lambang guild Umbrella. Kuroku pun terkejut bercampur haru. Setiap jalan ia melihat teman-temannya yang meninggal. Ada yang memeluk bendera guild serta kerajaan, ada yang memeluk seorang anak kecil. Dalam hati Kuroku mereka adalah keluarga yang sangat berjasa. Ya, karena Umbrella adalah sebuah keluarga bagi setiap anggotanya.
Kuroku mempercepat jalanya, dan apa yang ia lihat setelah sampai di gerbang utama? Kuroku melihat semua pasukan Vivid dibantai habis. Segeralah ia mencari Vivid di antara mereka. Hingga ia menemukan tubuh Vivid yang bersandar di tangga.
"Vivid?" panggil Kuroku cemas.
"Kamu selamat Kuro," Vivid tersenyum.
"Ya aku selamat, tidak ada bagian vitalku yang terluka." perasaan Kuroku yang sedih bercampur bahagia karena Vivid selamat.
"Kuroku apa kamu akan menikahiku?" tanya Vivid perlahan.
"Te..te....ten...tu saja." Kuroku dengan nada terbata-bata.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Vivid pelan.
"Vivid, aku sangat mencintaimu." Kuroku dengan wajah memerah.
"Aku juga mencintaimu Kuro," balas Vivid.
Kuroku mendengar kata-kata tersebut dari Vivid, membuat ia sangat senang. Namun Vivid masih lemah dan bersandar.
"Hujan salju masih belum reda yah?" Vivid melihat ke langit.
"Iya, tapi tidak separah tadi. Sekarang sudah agak mendingan." Kuroku duduk di samping Vivid mencoba menenangkan diri.
Vivid pun menyendarkan kepalanya di pundak Kuroku.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Vivid.
"Apapun itu Vivid," Kuroku dengan senyum lembut menatap mata Vivid.
"Hari ini sangat dingin, Kuroku peluk aku." pinta Vivid.
Kuroku pun memeluk Vivid.
"Hangatnya...Terima kasih Kuro." Vivid dengan nada pelan.
Kuroku terkejut merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang lengket.
"Jangan lepaskan pelukanmu Kuro." pinta Vivid merasakan apa yang Kuroku rasakan.
"Tapi aku mencium bau darah, dan tanganku," Kuroku melihat pundak Vivid.
Luka besar di punggung Vivid terlihat dengan jelas.
"Darah.... Vivid ayo kita ke tenda medis." Kuroku panik.
"Kamu ini dari dulu tidak berubah, aku disini saja. Lagi pula dengan luka seperti itu, percuma untuk pergi ke tenda medis." Vivid tersenyum dalam pelukan Kuroku.
"Tapi......" jawab Kuroku tak bisa berkata apapun lagi.
"Kuroku, kalo nanti aku mati... Bolehkah, kau kuburkan aku, dimana tempat pertama kali kita bertemu?" tanya Vivid dengan tatapan sayu.
"Jangan berbicara seperti itu," Kuroku sambil menahan pendarahan dari tubuh Vivid, dengan perban yang ada di kantong pinggangnya.
"Aku sangat bahagia saat kamu pertama kali bilang, akan menikahiku, aku akan menjadi istri yang baik untuk mu." suara Vivid mulai semakin pelan.
"..........................." Kuroku terdiam sambil meneteskan air mata.
"Anak-anak kita nanti pasti akan buat kamu kerepotan, terus tuh.. Kamu jangan ambil quest yang membahayakan di papan quest guild. Aku akan menjadi tukang masak saja di guild. Ingat saat pertama kali kamu menyatakan cinta kepadaku?" Vivid membenamkan kepalanya di dada Kuroku.
"Ya, aku ingat." balas singkat Kuroku menahan air matanya.
"Saat itu, kamu bilang, melarangku untuk memegang senjataku. Kemudian kamu bilang, kamu yang akan angkat senjata menggantikanku. Mulai saat itu tiap hari aku sulit tidur selalu memikirkanmu. Kemudian, hari ini kamu bilang akan menikahiku. Kau tahu? Aku sangat bahagia." ujar Vivid tersenyum.
"Ya, aku sangat ingat itu, aku mencintaimu." ujar Kuroku.
Share Tweet Share

Comment Now

0 comments

Please wait....
Disqus comment box is being loaded