Telah lama mengembara,
Kuroku pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Disela
perjalanannya, Kuroku menghampiri makam kekasihnya Vivid. Vivid adalah
wanita dari bangsa elf tercantik di dalam hatinya. Pohon yang menaungi
makam Vivid semakin subur setelah lama ditinggalkan oleh Kuro. Kuroku
adalah jenderal yang kuat, namun dia tetap tidak bisa menahan air
matanya saat menemui makan Vivid.
Saat 10 tahun yang lalu
saat perang di kerajaan Eos masih berlangsung, mereka adalah 2 jenderal
besar dari guild Umbrella yang diagungkan.
"Kuroku, kau harus menahan jalur gerbang selatan istana." ujar Vivid sambil menembakan busur panahnya di tengah perang bersalju.
"Baiklah, kita ke sana sekarang." jawab Kuroku.
"Tidak Kuro, aku dan
pasukanku akan menahan serangan di sini. Kau cepatlah pergi ke gerbang
selatan." tolak Vivid meminta Kuroku untuk segera pergi ke gerbang
selatan.
"Baiklah. Eh ya Vivid," Kuroku mendekati Vivid "Setelah perang ini selesai, aku akan melamarmu." bisiknya pelan.
"Dasar kau ini, aku tunggu janjimu" balas Vivid tersenyum.
Suara ledakan pun
terjadi di mana-mana. Musuh menggunakan pelontar api, untuk
menghancurkan bagian dalam benteng pertahanan terakhir kerajaan Eos.
"Hiduplah Kuro," dalam hati Vivid sambil melihat punggung Kuroku yang semakin menjauh.
"Jenderal kiri Vivid, ini gawat. Musuh sudah menghancurkan pertahanan utama." Edward menghampiri Vivid.
Vivid melihat pasukannya yang masih bertahan.
"Semua rapatkan barisan
jadikan 3 lapis barisan, tembakan busur panah kalian secara bergantian!"
dengan suara lantang Vivid memberikan perintah ke pasukannya.
Mendengar perintah
tersebut, pasukan di bawah jenderal kiri Vivid dengan spontan membentuk
barisan. Serangan yang dilancarkan oleh pasukan dapat menghambat pasukan
musuh.
Pertempuran sengit
terlihat di gerbang selatan, Kuro pun berlari pelan dan perlahan menjadi
cepat dan sangat cepat. Kemudian ia melompat dan langsung menyerang.
Barisan utama musuh berantakan, Kuroku bertarung sendirian. Gerakan dan
refleks yang cepat adalah kelebihan dari seorang teknik rogue. Kuro pun
dapat memperlambat pergerakan musuh. Tidak lama pasukan bantuan pun
datang. Tanpa berfikir panjang mereka langsung membantu jenderal kanan
mereka, Kuroku.
Acrux, ketua guild
Umbrella yang berada di garis depan hanya dapat bertahan dengan
pasukannya dan menunggu tentara yang dipimpin oleh pahlawan. Dari pagi
hingga menjelang sore, peperangan tetap berlangsung. Pahlawan pun tiba
bersama 50.000 tentara imperial langsung menyerang dari garis belakang
musuh. Cuaca bersalju memang sangat berat dan kurang mendukung, sehingga
stamina dan daya tahan tubuh menjadi poin penting dalam bertarung.
Panah pasukan Ballista dari sisi kanan mengenai perut Acrux, tak mampu
terselamatkan Acrux gugur dalam pertempuran ini. Para prajurit melihat
Acrux, mereka tidak menerimakan gugurnya pemimpin mereka dan membalas
lawan secara brutal.
Beberapa jam kemudian
bendera berwarna merah pun berkibar, menandakan musuh telah kalah.
Kuroku pun tersandar setelah menghabisi banyak musuh dengan luka parah
di sekujur tubuhnya. Tentara medis pun berdatangan, mereka memberikan
pertolongan pertama terhadap Kuroku. Kuroku pun berjalan menuju gerbang
utama tempat dimana Vivid berada. Baru saja berjalan kurang lebih dua
ratus meter ia mulai melihat orang-orang yang sangat ia cintai, dengan
lambang guild Umbrella. Kuroku pun terkejut bercampur haru. Setiap jalan
ia melihat teman-temannya yang meninggal. Ada yang memeluk bendera
guild serta kerajaan, ada yang memeluk seorang anak kecil. Dalam hati
Kuroku mereka adalah keluarga yang sangat berjasa. Ya, karena Umbrella
adalah sebuah keluarga bagi setiap anggotanya.
Kuroku mempercepat
jalanya, dan apa yang ia lihat setelah sampai di gerbang utama? Kuroku
melihat semua pasukan Vivid dibantai habis. Segeralah ia mencari Vivid
di antara mereka. Hingga ia menemukan tubuh Vivid yang bersandar di
tangga.
"Vivid?" panggil Kuroku cemas.
"Kamu selamat Kuro," Vivid tersenyum.
"Ya aku selamat, tidak ada bagian vitalku yang terluka." perasaan Kuroku yang sedih bercampur bahagia karena Vivid selamat.
"Kuroku apa kamu akan menikahiku?" tanya Vivid perlahan.
"Te..te....ten...tu saja." Kuroku dengan nada terbata-bata.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Vivid pelan.
"Vivid, aku sangat mencintaimu." Kuroku dengan wajah memerah.
"Aku juga mencintaimu Kuro," balas Vivid.
Kuroku mendengar kata-kata tersebut dari Vivid, membuat ia sangat senang. Namun Vivid masih lemah dan bersandar.
"Hujan salju masih belum reda yah?" Vivid melihat ke langit.
"Iya, tapi tidak separah tadi. Sekarang sudah agak mendingan." Kuroku duduk di samping Vivid mencoba menenangkan diri.
Vivid pun menyendarkan kepalanya di pundak Kuroku.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Vivid.
"Apapun itu Vivid," Kuroku dengan senyum lembut menatap mata Vivid.
"Hari ini sangat dingin, Kuroku peluk aku." pinta Vivid.
Kuroku pun memeluk Vivid.
"Hangatnya...Terima kasih Kuro." Vivid dengan nada pelan.
Kuroku terkejut merasakan tangannya menyentuh sesuatu yang lengket.
"Jangan lepaskan pelukanmu Kuro." pinta Vivid merasakan apa yang Kuroku rasakan.
"Tapi aku mencium bau darah, dan tanganku," Kuroku melihat pundak Vivid.
Luka besar di punggung Vivid terlihat dengan jelas.
"Darah.... Vivid ayo kita ke tenda medis." Kuroku panik.
"Kamu ini dari dulu
tidak berubah, aku disini saja. Lagi pula dengan luka seperti itu,
percuma untuk pergi ke tenda medis." Vivid tersenyum dalam pelukan
Kuroku.
"Tapi......" jawab Kuroku tak bisa berkata apapun lagi.
"Kuroku, kalo nanti aku
mati... Bolehkah, kau kuburkan aku, dimana tempat pertama kali kita
bertemu?" tanya Vivid dengan tatapan sayu.
"Jangan berbicara
seperti itu," Kuroku sambil menahan pendarahan dari tubuh Vivid, dengan
perban yang ada di kantong pinggangnya.
"Aku sangat bahagia saat
kamu pertama kali bilang, akan menikahiku, aku akan menjadi istri yang
baik untuk mu." suara Vivid mulai semakin pelan.
"..........................." Kuroku terdiam sambil meneteskan air mata.
"Anak-anak kita nanti
pasti akan buat kamu kerepotan, terus tuh.. Kamu jangan ambil quest yang
membahayakan di papan quest guild. Aku akan menjadi tukang masak saja
di guild. Ingat saat pertama kali kamu menyatakan cinta kepadaku?" Vivid
membenamkan kepalanya di dada Kuroku.
"Ya, aku ingat." balas singkat Kuroku menahan air matanya.
"Saat itu, kamu bilang,
melarangku untuk memegang senjataku. Kemudian kamu bilang, kamu yang
akan angkat senjata menggantikanku. Mulai saat itu tiap hari aku sulit
tidur selalu memikirkanmu. Kemudian, hari ini kamu bilang akan
menikahiku. Kau tahu? Aku sangat bahagia." ujar Vivid tersenyum.
"Ya, aku sangat ingat itu, aku mencintaimu." ujar Kuroku.
Comment Now
0 comments
Please wait....
Disqus comment box is being loaded